Artikel merupakan karangan
faktual secara lengkap dengan panjang tertentu yang di buat untuk di
publikasikan (melalui koran, majalah, buletin, dsb) dan bertujuan menyampaikan
gagasan dan fakta yang dapat menyakinkan, mendidik, dan menghibur.
2.Isi artikel
Isi artikel dapat bermacam-macam beberapa
contoh :
1.Sejarah.
2.Petualangan.
3.Argumentasi.
4.Hasil penelitian.
5.Bimbingan untuk melakukan atau mengajarkan
sesuatu.
3.Penulis artikel
Penulis artikel
ialah orang atau individu yang bertindak dalam pengarangan sebuah tulisan,
penggabungan beberapa kata menjadi kalimat yang menarik dan enak dibaca
sehingga membuat pembaca merasakan dapat mengetahui apa yang sebelumnya tidak
mereka ketahui sebelumnya.
Penulis artikel bermacam-macam :
1.Penulis artikel buku.
2.Penulis artikel berita.
3.Penulis artikel marketing.
4.Penulis artikel narasi..
5.Penuli artikel naskah.
4.Ciri-ciri
artikel
1.LUGAS, yaitu penulisan ;angsung menuju persoalan.
2.LOGIS, yaitu segala keterangan yang di paparkan
memiliki dasar dan alasan yang logis. (masuk akal) dan dapat di ujikebenarannya.
3.TUNTAS, yaitu masalahdikupas secara mendalam.
4.OBJEKTIF, yaitu keterangan yang disajikan sesuai
dengan data dan fakta yang ada.
5.CERMAT, yaitu berusaha menghindarkan berbagai
kekeliruan walau sekecil apapun.
6.JELAS dan PADAT, yaitu keterangan yang
dikemukakan dapat dipahami pembaca dan tidak bertele-tele.
7.TIDAK MELIBATKAN EMOSI BERLEBIH, seperti rasa
haru, marah, benci atau kagum yang berlebihan.
8.TERBUKA dan TIDAK EGOIS, yaitu menerima
kemungkinan pendapat baru dan tidak merasa diri paling benar.
9.MEMPERHATIKAN BAHASA BARU, dan mengikuti kaidah
tanda baca yang diakui.
Embun yang mengalir dari dedaunan yang
hijau mengawali hari ku pagi ini. Aku
pun bangkit dari tempat tidurku yang empuk dan berjalan menuju kearah cermin.
Ku melihat diriku ku sendiri di cermin, aku perhatikan diriku semakin hari semakin kurus.
Tak berapa lama kemudian ummi memanggil ku
dan aku tersentak sejenak.
“ syifa, “
panggil ummi
Ya itu nama ku syifa. Aku seorang gadis manis berumur 14 tahun
yang mempunyai penyakit leukemia atau
disebut kanker darah sejak 6 bulan terakhir ini aku terjangkit penyakit itu. Dan dokter menfonis bahwa aku tidak lama lagi untuk
bisa hidup.
Iya ummi,” sahut ku
Ayo sayang makan dulu setelah itu minum
obat sayang,”
Iya ummi sebentar,”
Aku pun keluar dari kamar menuju ruang
makan dan kulihat ummi dan ayah sudah
terlebih dahulu duduk di kursi makan itu. Aku duduk di samping ummi. Dan
seperti biasa aku selalu memperhatikan wajah ummi yang selalu sedih ketika melihat diriku, aku tau mungkin ummi sedih melihatku karena aku
semakin lama semakin tidak sehat dan mungkin sedih karena ucapan dokter yang
memeriksa ku waktu itu.
“biar ummi ambilkan ya nak,” kata ummi
dengan wajah yang sendu
Iya ummi terima kasih ummi,” kata ku
Iya sayang, ya sudah ayo di makan,” kata
umi lembut
Iya umi,” aku tersenyum
Aku pun mulai memasukkan nasi sesuap demi sesuap ke dalam mulutku.
Tapi tiba tiba tanpa ku sadari hidung ku…….
“ummi lihat hidung syifa berdarah lagi,”
kata ayah cemas
“ ya ampun syifa tunggu sebentar ya
nak biar ummi bersihkan hidung syifa,” kata ummi sambil meneteskan air mata
Inilah yang selalu aku
rasakan, aku tidak mampu menahan apa yang keluar berwarna merah dari hidung ku,
aku tidak tau harus melakukan apa. Aku hanya bertahan dengan apa yang bisa aku
pertahankan yaitu berdoa kepada yang kuasa.
“sudah ummi sudah tidak apa apa, ummi jangan menangis lagi ya syifa gak apa apa
ummi,” sahut ku
Aku selalu membuat ummi
dan ayah menjadi tidak cemas dengan
keadaan ku ini agar mereka tenang dan tidak terlalu khawatir dengan keadaan ku.
Aku merasa kasihan terhadap orang tua ku, dengan keadaan ku seperti ini ummi
dan ayah selalu berkorban untuk membuat ku sembuh, pagi, siang, malam ummi dan
ayah selalu merawat ku.
Aku terdiam ketika ummi membersihkan hidungku yang berdarah. Ku
perhatikan wajah ummi sesekali meneteskan air yang jatuh dari mata indahnya.
Aku tak mau berdiam terus ku husap air matanya dan kupeluk dia agar dirinya
tenang.
“sudah ummi jangan menagis lagi, syifa gak sangup ummi,
melihat ummi sedih terus,” kata ku sambil memeluk ummi
Iya sayang ya sudah lanjut makan nya biar
minum obat,” sahut ummi sendu
Aku, ummi dan ayah melanjutkan sarapan pagi
dengan lahapnya kami memakan masakan ummi yang begitu enak. Selesai makan ummi pun mengambilkan obatku dan ummi menuntunku untuk minum obat. Jujur saja aku
paling takut sama obat, karena
rasanya pahit di lidah.
Ku lihat kearah jam dan bertanya kepada
ayah
“ ayah tidah berangkat ke kantor sudah jam
07.00 yah,” kata ku
“ iya ini ayah mau berangat. Ya sudah ummi, syifa ayah berangkat ya, ayah sudah kesiangan,”
“ iya ayah hati hati ayah,” kata ku sambil menyalam
tangan ayah
Ku antarkan ayah sampai ke depan pintu dan
membantu ayah membawakan sebagian peralatannya. Tapi aku sedikit sedih,
biasanya ayah selalu mengantarku ke sekolah tapi aku belum bisa bersekolah . Karena ummi khawatir aku belum sanggup
dan kondisiku yang semakin hari semakin
memburuk . ya bagaimana lagi aku tak mau buat ummi
sedih, aku harus turuti apa kata kata
ummi.
“ ya sudah ayah pergi ya sayang jaga ummi d rumah,”
kata ayah
“iya ayah, hati – hati
ayah di jalan”,kata ku
“iya sayang”, kata ayah
Ayah pun masuk ke mobil dan langsung
berangkat ke kantor.
“hati hati ayah,” kata ku menjerit sambil melambaikan tangan
Setelah itu aku masuk kerumah karena ummi
sudah memanggil ku. Ku lihat ummi sendiri membereskan meja makan dan ku langsung bergeges menyusul membantu ummi.
Sambil aku membantu
ummi, ku
sempat kan untuk bercerita cerita dengan ummi.
“ummi syifa ingin seperti ayah menjadi arsitek yang sukses,” kata ku
“ kamu ingin menjadi arsitek sayang ummi mendukung mu,” sahut ummi tersenyum
“benarkah ummi mendukungku ,” kata ku
“ iya syifa tapi kamu harus janji kepada ummi harus cepat sembuh,” kata ummi
sambil mencium keningku
“ iya ummi syifa janji demi ayah dan ummi,” kata ku sambill memeluk ummi
Pukul 12.00 hari semakin siang ku duduk di
teras rumah memandangi taman depan rumah. namun aku sedikit bosan dan ku masuk
ke rumah. tapi aku merasakan keganjalan di tubuh ku, aku semakin sulit menggerakkan kaki ku untuk
berjalan. Ku paksa perlahan-lahanwalau aku
sedang sakit aku tidak ingin memanjakan penyakit ini. Aku ingin sembuh tak
ingin melihat ummi dan ayah putus asa suatu saat nanti.
“ aku harus bisa, aku kuat, aku tidak lemah,” kata ku
Tapi…
Aku pun terjatuh, ku menangis, ,menyesal,
aku gak mau menyusahkan ayah dan ummi.
Kenapa harus penyakit ini yang datang, kenapa ya allah aku gak sanggup karena aku, orang lain menjadi
susah.
Diriku terdiam sejenak merenung, melamun
dan tanpa ku
sadar teman teman ku kiran, imel, nabila, andi dan edo datang dan sudah berdiri di depan rumah ku.
“assalamualaikum, syi……..
Salah seorang teman ku terkejut melihat
diriku tergeletak duduk di lantai.
Ya ampun syifa kamu kenapa berdiam di situ,
kamu gak apa apa kan, “sahut kiran
“tidak apa apa kok aku,” kata ku
“ teman teman ayo dong bantu jangan diam
aja kasihan syifa,” kata nabila dengan marah
Teman teman ku membantu membimbing ku untuk
berjalan ke
arah ruang tamu. Lagi lagi aku menyusahkan orang lain. Bodohnya aku kenapa aku
harus terjatuh tadi, seharusnya aku bisa bertahan. Ehmmm aku menyesal, menyesal.
“duduk syifa ,” kata imel
“ ibu mu mana fa,” sahut andi
“ ibu di
belakang lagi menyiapkan makan siang, sebentar ya biar ku panggilkan ibu,”
kataku
“ sudah sudah tidak usah syifa biar aku yang membantumu untuk memanggilkan ibu
mu,”sambung nabila.
“sudah tidak apa apa aku kuat kok,” paksa
ku
“ tapi syifa,” bantah nabila
“ benar lho gak apa apa, aku kuat aku
bisa,” bantah ku lagi
Aku bangkit dari kursi. Ku paksakan kaki ku
untuk bergerak. Perlahan lahan aku coba. Walau sakit yang penting aku tidak menyusahkan orang
lain lagi. Bismillah, aku langkah kan pelan pelan. Lega aku rasakan, aku masih mampu
berdiri.
“ syifa pelan pelan biar aku bantu ya,” sahut edo
“gak gak aku bisa. Aku gak mau ngerepoti
kalian,” kata ku
“ beneran ni,”sambung edo
“ bener lho teman teman,” sahut ku senyum
Bismillah bantu aku ya allah, aku jalan perlahan
lahan. Namun belum lagi aku memanggil ummi ku aku pun…………..
“syifa syifa ya ampun nak bangun nak, kamu
harus kuat nak, syifa tahan sayang kamu
jangan lemah” suara ibu ku cemas
“ syifa ya allah kenapa kamu tadi harus
membantah,” kata salah satu teman ku
“sayang bangun nak bangun, anak ummi kuat anak ummi gak lemah,” kata ibu sambil menangis
“ummi,” panggil ku
Aku tak tau lagi aku gak bisa membuka mata
ku, yang ku dengar hanya lah suara ummi dan teman teman ku . ya allah bila ini saatnya aku ikhlas, karena
bila aku bertahan aku akan menyusahkan banyak orang lain terutama ummi dan ayah.
Beberapa saat kemudian…
Aku tersadar kubuka perlahan lahan mata ku,
yang kulihat hanyalah benda benda yang membuat menyiksa tubuh ku aku tahu pasti aku di rumah
sakit tempat yang paling tidak aku sukai. Pasti tadi aku pingsan. Dan aku juga melihat ada
teman teman juga ayah dan, ya ampun ummi mana aku tidak melihat ummi.
“ a.. a.. ayah,” panggil pelan
“syifa nak kamu sadar sayang, ayah
senang,”kata ayah gembira
“syifa syifa kamu sudah sadar,” sambung
teman teman ku
“ayah, ummi mana,” sambung ku
“ummi kamu d kamar sebelah sedang di rawat sayang,”
kata ayah
“kenapa yah, syifa mau lihat ummi sekarang ayah,”kata ku
menangis
“ ummi tadi pingsan nak jantung nya ummi kumat, ummi tidak sanggup melihat shifa,” kata ayah sendu
“ayah, shifa mau melihat
ummi. Ayah ayuk lah ayah,”
“ iya sayang ayah bantu kamu ya, ya sudah
ayah panggil suster dulu,” kata ayah
Ayah memanggil suster untuk membantu
melepaskan alat alat di tubuh ku ayah dan teman teman ku juga membantu menuntunku untuk duduk d kursi roda.
Dengan tenang aku duduk di kursi itu dan di dorong oleh ayah menuju kekamar di mana
ummi ku di
rawat. Ketika sampai di depan kamar ummi ayah pelan pelan
membuka kamar tempat di rawat nya ummi. Aku terkejut melihat ummi tergeletak sendiri yang hanya di temani alat
alat rumah sakit. Lagi lagi ini karena aku , ehemmm aku meneteskan air mata hanya gara
gara aku ummi
sakit, kasihan ummi maafkan syifa ummi, shifa selalu membuat
ummi susah, membuat jantung ummi kambuh lagi, semua karena shifa.
Ayah mendorongku ke tempat tidur ummi, aku langsung memeluk ummi erat hingga air mata
ku menetes ke wajah ummi.
“ ummi ini syifa ummi, bangun ummi maafkan syifa,” kata ku sambil menangis
“ sa.. sa.. sayang,” sambung ummi
“ ummi ummi sudah bangun, ayah ummi
sudah bangun, ummi maafkan syifa ummi,” kata ku sambil memeluk ummi
“iya sayang,” kata ayah
“sini sayang dekat sama ummi kamu gak salah kok
sayang,” sahut ummi
“iya ummi, ayah syifa minta tolong ,” kata ku
“ iya sayang apa itu biar ayah bantu,”
sambung ayah
“ ayah tolong syifa ya, syifa mau baring di
sebelah umi, ayah mau kan bantu syifa,” sahut ku
“ iya sayang ayah mau, ya sudah ayo ayah
pegangin syifa,” sambung ayah
Ayah menggendongku untuk membantu
membaringkan ku di sebelah ummi yang paling aku sayang. Setelah ayah membaringkan ku, aku
langsung memeluk tubuh ummi dengan erat. Aku merasakan kehangatan dari ummi, ummi juga membalas memeluk
tubuh ku, seketika aku menangis merasa ada perasaan yang tidak enak di hati ku.
Ku peluk erat ummi lagi.
“syifa sayang tidak sama ummi.” Kata ummi sedih kepada ku
“ sayang sayang sekali, kenapa ummi mengatakan seperti
itu,” aku menjawab terkejut
Perasaan ku semakin tidak enak ketika ummi bertanya seperti itu.
Dan ku tenang kembali ketika ummi memelukku. Aku terdiam dan melihat jam sudah jam 00.00 dini hari,
aku tersentak dan aku sadar bahwa hari ini tepat tangal 13 mei ummiku berulang tahun yang
ke 40.
“ummi,” panggil ku
“ iya sayang kamu kenapa,” jawab ummi tersenyum
“syifa mau nyanyi buat ummi,” kata ku
“iya sayang nyanyi apa nak,” jawab ummi
“ dengarin nya ummi,” balas ku
“Kasih
ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
selamat ulang tahun umi, semoga cepat
sembuh ya ummi, panjang umur, syifa sayang ummi,” kata ku sambil mencium pipi ummi
“sepertinya tidak sayang, umur ummi tidak akan lama lagi,
kamu yang akan panjang umur sayang dan akan sembuh dari sakit mu sayang percaya
dengan ummi
nak,” kata ummi
sedih
“ummi kenapa ngomong seperti itu, syifa gak mau
kehilangan ummi,”jawab
ku menangis
“gak apa apa sayang kan ada ayah, syifa kuat sayang syifa gak lemah, “ jawab
ummi menangis
“ummi,” panggil ku
“ummi berpesan jangan menjadi anak yang lemah syifa kuat, jaga ayah syifa, dan juga jangan pernah meninggalkan sholat 5 waktu ya syifa,” jawab ummi tegas
Perasaan aneh itu datang lagi. Ya allah
perasaan apa ini. Aku takut ketika ummi mengatakan itu,
“sini sayang ummi peluk, ummi sayang syifa, ummi sayang ayah,” jawab ummi meneteskan air mata
Aku menangis ketika ummi memelukku aku merasa ini pelukan terindah
dari ummi.
Pelukan ini berbeda dari biasanya pelukan ummi ini
lebih hangat, lembut, dan sangat sangat berbeda. Aku
terus menangis di pelukan ummi.
“ummi,” panggil ku
“ummi,” panggil ku yang kedua kali
Aku curiga ummi tidak menyahut panggilan ku, ku lepaskan
pelukan ummi
pelan pelan. aku bangkit dari tempat tidur. Ku lihat ummi tak sadar kan diri,
aku panggil berkali kali kali namun ummi tidak
juga menyahut,
ku panggil ayah yang tertidur di sofa,
“ayah, ayah ummi yah,” panggil ku berbisik
“ehhem kenapa nak dengan ummi,” jawab ayah lesuh
“ayah ummi tidak bargerak yah cepat panggil dokter yah
cepat yah,” jawabku sedih
“ apa, iya iya sebentar nak ayah akan panggil kan dokter,” kata ayah
ku panik
Menunggu ayah memanggil kan dokter, aku
juga terus memanggil ummi,
“ ummi.. ummi,” panggil ku menangis
“ sayang,” jawab ummi
“jangan menangis nak ummi baik baik saja, ummi mau ketemu dengan ayah
nak,” jawab ummi lagi
Tak lama setelah itu ayah datang membawa
dokter. Ayah mendekat ke tempat tidur ummi
“ayah,” panggil ummi
“ayah, jaga anak kita syifa ya ayah,” Kata ummi
“ayah akan menjaga syifa, kenapa ummi ngomong seperti itu,”
jawab ayah
Kami menunggu di luar sampai dokter selesai
memeriksa ummi.
Aku menangis tak tega melihat ummi seperti itu. Ayah mencoba menenangkan ku yang tak berhenti menangis dari tadi. Tak lama
kemudian dokter keluar dari ruangannya.
“pak,” panggil dokter tegas
“kami minta maaf pak, semua yang hidup pasti akan kembali kepada Allah,” kata dokter
“maksud bapak apa, saya tidak mengerti pak,
tolong yang jelas pak,” bantah ayah
“maafkan kami pak, kami sudah berusaha pak,
“ sambung dokter
“akhk u.. umi kenapa ya allah kenapa, ummi jangan tinggalkan ayah,” kata ayah menangis
Aku mendekati ayah aku melihat ayahmenangis.
Secara spontan aku juga kaget dan perasaan aneh datang lagi.
“ayah kenapa,” tanya ku
“syifa ayah tak sanggup nak,” jawab ayah
“kenapa yah syifa tidak mengerti yah,
jelasin sama syifa yah,” tanyaku
“ummi nak ummi,” sambung ayah lagi
“kenapa yah dengan ummi ayah jangn buat syifa takut yah,” tanyaku lagi
“ ummi ummisudah di
panggil sama allah nak,” jawab ayah menangis
aku merasa tak percaya, aku langsung berlari ke kamar ummi ku lihat ummi sudah terbaring kaku
di tempat tidur dan di tutupi selimut hingga sekujur tubuhnya. Aku terdiam
terpaku yang hanya bisa mamandangi jasad ummi. Aku berjalan pelan pelan kearah ummi. Kemudian aku berlari
dan menjerit memanggil nama ummi ummi ummi ummi. Tak lama itu ayah pun masuk untuk melihat ummi yang sudah terbujur
kaku.
ini kah perasaan itu ya allah aku kehilangan ummi selamanya dan pelukan itu sudah menjadi tanda
bahwa itu pelukan terakhir ummi untuk
ku. Aku terus memeluk erat ummi dan ayah hanya bisa
menangis sambil mengelus punggung ku
agar aku tenang akan kejadian ini.
kemudian tiba tiba datang seorang dokter yang selalu menangani sakit ku. Dia
membawakan berita gembira kepada kami kalau kanker ku yang tadinya stadium 4 sudah turun
menjadi stadium 1 dan kemungkinan aku akan sembuh kata nya.
aku bahagia namun aku sedih,aku tidak
sanggup tersenyum, seandainya ummi masih ada pasti ummi akan menjadi ibu yang
paling bahagia di dunia yang melihat buah hatinya sembuh dari sakit mematikan.
Tapi itu tidak mungkin ummi sudah pergi meninggalkan
aku dan ayah tepat di hari ulang tahunnya yang ke 40. “Selamat jalan ummi aku dan ayah
sayang ummi. Syifa janji
gak akan kecewakan ummi syifa juga akan jaga ayah ummi,” kata
ku.
Besok nya kami kembali ke
rumah untuk mengurus jasad ummi agar di kebumikan. Semua kawan ku datang begitu
juga kawan kantor ayah dan ummi, guru-guru ku dan dokter yang yang selalu
mengurusi sakit ku juga datang. Aku tidak sanggup melihat ummi tebaring di
tempat ummi di baringkan, spontan aku langsung pergi ke kamar ummi.
“ummi syifa ingin ummi
baring di tempat tidur ummi dan syifa sedang memeluk ummi,” kata ku
Aku tidak sanggup untuk
mendapat kan ini, masih terasa pelukan ummi yang berbekas di tubuh ku, hati ku
bagaikan es yang membeku, tubuh ku dingin memikirkan ummi.
“nak sedang apa di sini
sayang,” kata ayah
“AYAH.......,” kata ku
Aku langsung memeluk ayah
erat-erat, aku menangis di pelukannya, ayah pun langsung menggendong ku. Air
mata ku menetes di bajunya, di bahunya.
“ayah, ummi ayah, ummi
ayah, ummi ayah,” kata ku
Ayah hanya terdiam dan
mencium kepala ku, mengelus punggung ku
“ayah syifa ingin ummi
hidup ayah, syifa kangen dengan ummi, syifa mau ummi tau kalau syifa sudah akan
sembuh ayah, pasti ummi akan bahagia ayah, ummi pasti akan tersenyum yah,” kata
ku kepada ayah
“sayang, ummi......,
sudah sayang ummi juga kangen sama syifa, ummi pasti sudah tau sayang bahwa
syifa akan sembuh, ummi pasti akan tersenyum, seperti syifa melihat ummi
tersenyum, seperti itu lah ummi akan tersenyum bahagia melihat syifa,” jawab
ayah kepada ku
Aku hanya mengangguk
kepada ayah, aku masih tetap di pelukan ayah. Ayah pun membawa ku ke depan
tempat jasad ummi di baringkan.
“sayang turun yuk
sayang,” kata ayah
“iya ayah,” kata ku
air mata ku masih tetap
mengalir, terseduh-seduh sesekali melihat ummi.
“sabar ya syifa, syifa
harus kuat,” kata salah satu teman ku
“iya,” kata ku
Keluarga ku semua datang
dari ayah dan ummi, mereka sedih melihat ummi ku pergi tapi mereka juga senang
aku sudah akan sembuh, namun di hatiku aku merasa masih tetap saja sedih, “buat
apa sembuh kalau ummi ku pergi meninggalkan ku, itu sama saja aku kehilangan
bahagian tubuh ku, aku ingin ummi ku, ya Allah engkau maha pengasih lagi maha
menyayang dengar kan lah pinta ku ini ya Allah,” kata ku di dalam hati.
“syifa mau cium kening
ummi,” kata ayah
“mau ayah,” kata ku
“iya sayang, tapi jangan
pakai nangis ya sayang, syifa harus senyum,” kata ayah
“iya ayah,” kata ku
Ku cium kening ummi untuk
terakhir kalinya, wajah ummi bersih sekali, bibir ummi tersenyum, sungguh
cantik sekali ummi ku ini. Setelah aku cium kening ummi, ayah pun mencium ummi
kening ummi dan pipi ummi.
Jasad ummi pun di urus. Setelah
jasad ummi di kebumikan, kami semua kembali ke rumah, di saat pulang aku
digendong ayah.
Semua telah berakhir
seminggu telah lewat, di rumah hanya aku dan ayah. Kami yang mengurus rumah
bersama-sama, penyakit ku semakin hari semakin membaik. Ayah yang mengurus
keperluan ku semua, ayah merangkap menjadi ayah dan ummi, memasak, menyuci,
semua pekerjaan ummi dulu ayah yang kerjakan. Aku hanya membantu ayah, aku
selalu bertanya kepada ayah, “ada yang bisa di bantu ayah”, itu yang selalu aku
katakan.
Kini aku sudah bisa masuk
sekolah dengan baik, setiap hari ayah mengantar ku seperti biasa, namun kata
“hati-hati ya ayah bawa mobil ayah, syifa hati-hati ya sayang, baik-baik di
sekolah, rajin belajar ya anak ummi”, dari ummi kini tidak ada terdengar hanya
dengungan di telinga yang terbesit. Kecupan ayah dan ummi kini hanya ayah saja
namun ayah selalu cium dua kali kata ayah itu dari ummi dan ayah.
Kami berdua selalu
melihat ke teras rumah sebelum melanjutkan perjalanan, kami membayangkan ummi
melambaikan tangan kepada kami, sambil mengucapkan “hati-hati”,.
Ayah sekarang tidak sibuk
lagi untuk keluar rumah, apalagi ayah arsitek yang sukses yang selalu di
perlukan pemikirannya. Bila ayah mau ke kantor ayah selalu membawaku, bila aku
pulang sekolah ayah sudah membawakan makan siang ku di dalam mobil. Ayah sudah
sama seperti ummi kalau keluar rumah tidak beli makanan tapi di bawa dari rumah.
Pekerjaan ayah tidak
terganggu dengan keadaan ini karena ayah minta izin untuk bekerja di rumah
saja, ayah ingin selalu siap siaga di rumah bila aku memerlukan sesuatu. Aku
salut dengan ayah, ayah adalah ayah yang baik sekali syifa sayang, cinta ayah.
Ummi syifa cinta, sayang ummi. Syifa akan membanggakan ayah dan ummi.
MMMMUUUUUAAAAAACCCCHHHH UNTUK AYAH DAN UMMI.